0%
banner

Menemukan Freedom dari Freelance Photographer

Mimpi banyak orang adalah untuk membuat hobinya menjadi sesuatu yang dapat menghidupi mereka, bahkan serta keluarganya. Di era digital ini, lo tentunya sering mendengar tentang bisnis freelance orang-orang muda lain, yang bergerak di bidang seni, seperti design, penulisan dan juga fotografi.

Freelance. Seni. Freelance di bidang seni?

Kedua kata-kata ini tampaknya masih sulit dibayangkan sebagai pilihan karir yang cocok untuk seumur hidup. Keraguan macam ini muncul gak hanya dalam benak pikiran banyak orang dari generasi sebelumnya, tapi bahkan beberapa yang dari generasi milenial gak sanggup mengejar idealisme mimpi itu, gak peduli seberapa tinggi passion mereka.

Kenapa begitu? Karena sangat sulit, dan kebanyak orang berpikir dengan cara yang praktis. Masuk ke dalam perusahaan dan menyisihkan waktu mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sudah diporsikan mungkin relatif mudah dan memuaskan untuk kebanyakan orang.

Namun hal ini gak menghentikan Ervan Rustam, seorang fotografer profesional yang sekarang berpengalaman lebih dari 10 tahun. Dia sudah cukup dikenali oleh klien-klien corporate dan industrial besar yang mencari jasanya.

Karyawan dengan mental entrepreneur

Gak ada yang salah juga menjadi seorang karyawan. Gue gak bermaksud terlalu mengidealisasikan para entrepreneur dan memposisikan mereka lebih tinggi daripada orang-orang yang sukses dalam sebuah perusahaan.

Ervan sendiri memulai karirnya sebagai Graphic Designer di sebuah Creative Agency. “Di situ saya bekerja sama dengan seorang fotografer untuk materi promosi untuk sebuah produk makanan bayi, disitulah timbul ketertarikan dengan profesi fotografer,” katanya.

Menurutnya, pola bekerja seorang photographer berbeda dengan seorang graphic designer. Seperti designer-designer yang lain, Ervan membuat design dari kanvas yang kosong. Waktu pekerjaan lebih lama, dan itu pun belum termasuk menerima revisi-revisi dari klien.

“Ternyata seru ya jadi seorang fotografer,” kata Ervan. Dia berkata bahwa semua orang yang terlibat dalam proses pemotretan ada di ruang yang sama pada waktu yang sama. “Ada food stylist, tim kreatif, dan klien dalam satu waktu yg sama, harus menciptakan karya/foto sesuai dengan brief klien dalam waktu yg tergolong singkat.”

Kesulitan mencari proyek pertama

Seperti wajarnya semua pebisnis, sekali dia dapat pelanggan pertama, pelanggan berikutnya seharusnya gak terlalu susah untuk dicari. Tapi freelancer maupun fresh graduate sering berjumpa dengan kontradiksi: Pekerjaan butuh pengalaman sedangkan pengalaman butuh kerja.

Lalu gimana? “Lalu saya memutuskan untuk mencari sekolah fotografi dan akhirnya bersekolah fotografi di daerah Jakarta Utara,” kata Ervan. Pelatihan bisa berupa pengalaman dari nol, tapi yang paling sulit adalah mendapat pelanggan pertama karena “keterbatasan portfolio”.

“Sempat nganggur selama hampir 4 bulan tidak ada job, lalu seorang teman menghubungi saya kalau kenalannya membutuhkan fotografer untuk Perusahaan Bus,” katanya. Dia lalu bercerita bahwa hanya dari satu portfolio itu aja Ervan “beruntung bisa memenangkan tender untuk foto sebuah perusahaan kertas terbesar di Asia Tenggara”.

Roda bisnisnya akhirnya berputar, dan gak perlu dorongan terlalu berat untuk meluncurkan karirnya sebagai freelance professional photographer. “Saya mengirimkan portfolio saya ke beberapa agency dan dari situlah saya fokus di corporate dan commercial photography.”

Kreatif mencari kebutuhan market

Banyak anak-anak muda mudah nyerah ketika menjalani tahap-tahap awal berbisnis atau berusaha sendiri tanpa bantuan dari perusahaan. Ini sering terjadi karena mereka belum cukup paham dengan market dan opportunity apa aja yang bisa dipetik dari kebutuhan-kebutuhan market yang tersembunyi.

Ervan Rustam membutuhkan waktu untuk mengetahui bahwa ada kebutuhan market di bidang corporate dan commercial photography. Dari situ dia secara kreatif menangani klien seperti Sinarmas APP, Bank BCA, Bank Mandiri, Bank of China, Good Year, Asus, Pocari Sweat, dan masih banyak lagi.

Kesempatan gak datang begitu aja dengan gampang. Tapi sebelum ia datang pun, lo bakal perlu persiapan skill, kenalan, modal, dan yang terpenting berani mencoba. Ervan menambah dengan mengutip dari Forrest Gump, “Life is like a box of chocolates, you never know what you’re gonna get.”

Casualogue

#SantaiTapiBerisi 





close popup
join the club
Isi data dibawah ini untuk panduan terkini hidup Santai Tapi Berisi!