0%
banner

Menjadi Girl Boss di Usia Muda, Inspirasi Anak Muda!

Banyak anggapan kalau bidang arsitektur lebih banyak dikuasai oleh lelaki, namun bukan berarti perempuan juga tidak bisa bergerak di bidang ini bahkan menjadi bos di usia yang masih sangat muda. Adalah Vania Bertha, perempuan yang hobi traveling ini sudah menekuni dunia arsitektur selama sewindu. Bahkan, Vania juga mengakui kalau arsitektur adalah passionnya yang ternyata membuatnya juga menemukan banyak passion lain. 

Menekuni pekerjaan arsitektur usai kuliah, Vania hanya bertahan lima bulan di perusahaan konsultan sebelum akhirnya memutuskan untuk membangun perusahaannya sendiri. Meski kini sudah menjadi girl boss, hal itu tidak pernah terbersit dalam hidupnya. Menurutnya, memiliki perusahaan sendiri berawal dari ajakan teman-teman yang biasanya bareng sebagai pekerjaan kerjaan sampingan saat masih kuliah. 

Sampai akhirnya, Vania sadar kalau ternyata memiliki perusahaannya sendiri adalah reward bagi dirinya. Vania mengungkapkan dengan memiliki perusahaannya sendiri, dirinya bisa mengatur tanggung jawab dengan lebih baik. Perempuan yang tidak tahan untuk berjam-jam di kantor, kini bisa mengatur waktu sambil terus meningkatkan tanggung jawab. 

Aegepix awalnya hanya dimulai oleh lima orang, sama seperti banyak pengusaha muda di awal membangun usahanya, Vania yang memiliki pengikut lebih dari 2 ribu orang itu juga harus menghadapi banyak kendala. Awalnya, kendala utama yang harus dihadapi Aegepix adalah sulitnya mendapatkan klien. 

“Sebetulnya kendala dan hambatan banyak banget ya dari modal, dan bagaimana nih caranya dapet klien pertama, dan banyak banget. Cuman kendala yang paling besar adalah cari client. Karena kan arsitektur ini kita offer jasa ya, trust itu menurut aku nomer satu,” ungkap Vania. 

Padahal saat itu, Vania dan rekan-rekannya baru saja lulus dari bangku kuliah dan belum memiliki portofolio yang membuat orang percaya pada perusahaan mereka. Tidak heran, pada masa awal Vania harus membanting harga dan membangun kepercayaan dengan menawarkan secara door to door. 

“Ada salah satu partner aku yang memang tugas nya marketing, dia bener-bener seperti sales member ke biro-biro arsitek yang lebih besar lalu sampai ngomong “kalian ada proyek yang besar gak yang bisa kita bantu?” Sampe segitunya hahaha karena pas kita mulai kita bener-bener ga punya portfolio, kita ga punya relasi yang gimana-gimana banget, mungkin klien pertama kita yang ngasih karena cuman mau bantu kita aja kayanya hahaha. Tetapi karena client pertama mulai ada mulut ke mulut, dan perlahan dari mulut ke mulut itu mulai berkembang disana,” kenang Vania. 

Untungnya, Vania merupakan pribadi yang santai, menurutnya hambatannya harus dilewati saja. Pasalnya menurut Vania hambatan akan selalu ada, baik di awal, tengah, bahkan saat pensiun. 

Tidak heran, perempuan yang baru saja menikah ini sudah mengalami titik balik di usianya yang masih muda. Menurutnya, pencapaian terbesarnya adalah saat dirinya bisa bekerja sama dengan Bappenas untuk sebuah video animasi tentang pembangunan infrastruktur Pulau Jawa. 

“Itu menurut aku titik balik dari Aegipix sih, karena kita disana benar-benar dipaksa untuk bagaimana bekerja dengan orang pemerintahan, gimana caranya memenangkan tender, gimana caranya kita negosiasi, semua yang kita gak dapetin di client biasa kita dapetin di client pemerintahan,” jelas Vania. 

Di sisi lain, Vania juga tidak memungkiri kalau kadang motivasinya kerap menghilang. Namun, Vania mengungkapkan kalau teamnya kini sudah mencapai 20 orang adalah motivasi terbesarnya. 

“Tanggung jawab yang cukup besar sih untuk terus menggaji dan memberikan reward yang banyak untuk team kita. Sebetulnya itu beban dan motivasi juga sih. Motivasi yang aku tanamkan di diri sebetulnya lebih harus inget team, inget dulu visi misi kita apa sih,” jelas Vania.

Vania juga selalu menanamkan pada dirinya kalau tantangan terbesar usaha bukan saat jatuh namun saat ingin melangkah ke tahap yang lebih besar. Seperti yang terjadi begitu pandemi menyerang. Sama seperti banyak perusahaan, Aegepix juga sempat berdarah-darah sehingga membuat Vania makin berkomitmen meski dengan langkah yang kecil.

“Sebetulnya aku masih belajar, dan kalau aku boleh berpesan “just do it” mumpung kalian masih muda, selama kalian belum ada tanggungan. Kalaupun kalian sudah ada tanggungan coba aja. Karena kalian akan lebih banyak menyesal karena tidak mencoba dari menyesal karena mencoba,” saran Vania. 

Menurutnya, gagal saat mencoba itu adalah pelajaran, sedangkan mencoba dan berhasil itu bonus. Tidak ada yang salah, yang penting mulai aja dulu!

Casualogue

#SantaiTapiBerisi 

close popup
join the club
Isi data dibawah ini untuk panduan terkini hidup Santai Tapi Berisi!